Perang Rusia–Ukraina yang pecah sejak Februari 2022 tidak hanya mengubah peta keamanan Eropa Timur, tetapi juga mengguncang hubungan internal negara-negara Uni Eropa (UE) dan NATO. Di tengah upaya kolektif Barat menghadapi agresi Rusia, muncul berbagai ketegangan politik di antara sekutu sendiri. Salah satu isu yang kerap mencuat adalah tuduhan bahwa Prancis “mengkhianati” Jerman dalam konteks kebijakan terhadap perang Rusia–Ukraina. Tuduhan ini tidak selalu muncul dalam bentuk pernyataan resmi, melainkan melalui analisis media, pernyataan politisi, serta perdebatan di kalangan pakar hubungan internasional. Artikel ini akan membahas latar belakang tuduhan tersebut, perbedaan pendekatan Prancis dengan Jerman, serta dampaknya terhadap solidaritas Eropa.
Latar Belakang Hubungan Prancis–Jerman
Prancis dengan Jerman selama puluhan tahun dikenal sebagai “motor penggerak” Uni Eropa. Sejak Perjanjian Élysée tahun 1963, kedua negara membangun kemitraan strategis yang kuat di bidang politik, ekonomi, dan pertahanan. Dalam banyak krisis internasional, kesepakatan Paris–Berlin sering menjadi fondasi keputusan bersama UE.
Namun, hubungan erat ini tidak berarti bebas dari perbedaan. Prancis cenderung menekankan otonomi strategis Eropa dan kekuatan militer independen, sementara Jerman lebih berhati-hati, terutama karena sejarah militernya dan ketergantungan ekonomi pada stabilitas energi.
Perbedaan Sikap Terhadap Perang Rusia–Ukraina
1. Pendekatan Diplomasi Prancis
Prancis, di bawah Presiden Emmanuel Macron, sejak awal perang mengambil posisi yang menyeimbangkan dukungan terhadap Ukraina dengan upaya menjaga jalur komunikasi dengan Rusia. Macron beberapa kali menekankan pentingnya “tidak mempermalukan Rusia” demi membuka peluang negosiasi di masa depan.
Pendekatan ini menimbulkan kecurigaan di sebagian kalangan Jerman dan Eropa Timur, yang menilai sikap Prancis terlalu lunak terhadap Moskow.
2. Sikap Jerman yang Lebih Tegas Secara Bertahap
Jerman pada awal perang juga terkesan ragu-ragu, terutama terkait pengiriman senjata berat ke Ukraina. Namun, tekanan dari sekutu dan perubahan opini publik membuat Berlin akhirnya mengambil langkah lebih tegas, termasuk pengiriman tank Leopard dan peningkatan anggaran pertahanan.
Ketika Jerman mulai bergerak lebih agresif dalam mendukung Ukraina, perbedaan tempo dan gaya kebijakan ini memunculkan persepsi bahwa Prancis tidak sepenuhnya sejalan.
Asal Usul Tuduhan “Pengkhianatan”
Tuduhan bahwa Prancis mengkhianati Jerman biasanya muncul dari tiga isu utama:
1. Koordinasi Militer dan Industri Pertahanan
Kedua negara ini memiliki proyek bersama di bidang pertahanan, seperti pengembangan pesawat tempur generasi baru (FCAS). Ketegangan muncul ketika kepentingan industri nasional masing-masing dianggap lebih diutamakan daripada kerja sama. Dalam konteks perang Ukraina, sebagian pihak menilai Prancis lebih fokus pada agenda militernya sendiri daripada mendukung inisiatif Jerman.
2. Retorika Politik
Pernyataan Macron tentang pentingnya dialog dengan Rusia dianggap bertolak belakang dengan narasi Jerman yang semakin keras terhadap Kremlin. Hal ini memicu anggapan bahwa Prancis melemahkan posisi bersama Eropa, dan secara tidak langsung “menusuk dari belakang” upaya Jerman membangun front yang solid.
3. Kepemimpinan di Eropa
Perang Ukraina juga menjadi ajang perebutan pengaruh kepemimpinan di UE. Jerman, sebagai kekuatan ekonomi terbesar, dan Prancis, sebagai kekuatan militer utama UE, sama-sama ingin menentukan arah kebijakan Eropa. Tuduhan pengkhianatan sering kali lebih mencerminkan persaingan kepemimpinan daripada pelanggaran nyata terhadap komitmen aliansi.
Perspektif Prancis: Bukan Pengkhianatan, Melainkan Strategi
Dari sudut pandang Prancis, kebijakannya bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap Jerman, melainkan strategi jangka panjang demi stabilitas Eropa. Paris berargumen bahwa perang suatu saat akan berakhir, dan Eropa harus siap dengan kerangka keamanan baru yang melibatkan Rusia, apa pun hasil konfliknya.
Prancis juga tetap memberikan bantuan militer dan kemanusiaan kepada Ukraina, meskipun sering kali dengan pendekatan komunikasi yang lebih hati-hati dibandingkan Jerman atau negara Eropa Timur.
Dampak Terhadap Uni Eropa Dan NATO
Perbedaan pandangan antara Prancis dan Jerman menimbulkan beberapa konsekuensi:
-
Koordinasi UE yang Melambat
Ketidaksepahaman Paris–Berlin dapat memperlambat pengambilan keputusan strategis di tingkat UE. -
Kebingungan Pesan Politik
Rusia dapat memanfaatkan perbedaan retorika di antara negara-negara Barat untuk melemahkan persatuan mereka. -
Dorongan Reformasi Keamanan Eropa
Di sisi lain, ketegangan ini juga memaksa UE untuk mendiskusikan ulang konsep pertahanan bersama dan otonomi strategis.
Kesimpulan
Tuduhan bahwa Prancis mengkhianati Jerman dalam perang Rusia–Ukraina lebih merupakan refleksi dari perbedaan strategi, kepentingan nasional, dan gaya kepemimpinan, bukan bukti nyata pengkhianatan. Kedua negara ini tetap berada di pihak yang sama dalam mendukung Ukraina dan menentang agresi Rusia, meskipun dengan pendekatan yang berbeda.
Perang ini menegaskan bahwa persatuan Eropa bukanlah sesuatu yang otomatis, melainkan hasil dari kompromi terus-menerus. Selama Paris dan Berlin mampu menjaga dialog terbuka, perbedaan tersebut masih dapat menjadi kekuatan, bukan kelemahan, bagi Eropa.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Apakah Prancis benar-benar mengkhianati Jerman?
Tidak ada bukti resmi bahwa Prancis mengkhianati Jerman. Tuduhan tersebut lebih bersifat politis dan interpretatif.
2. Mengapa Prancis tetap membuka dialog dengan Rusia?
Prancis percaya bahwa diplomasi diperlukan untuk menciptakan solusi jangka panjang dan stabilitas pascaperang.
3. Apakah kedua negara ini masih bersatu dalam mendukung Ukraina?
Ya. Keduanya tetap memberikan dukungan, meskipun dengan intensitas dan pendekatan yang berbeda.
4. Apakah perbedaan ini membahayakan Uni Eropa?
Berpotensi menimbulkan tantangan, tetapi juga mendorong diskusi yang lebih mendalam tentang masa depan keamanan Eropa.
5. Apa pelajaran utama dari ketegangan ini?
Bahwa solidaritas internasional memerlukan keselarasan kepentingan, komunikasi yang jelas, dan kemampuan mengelola perbedaan tanpa merusak tujuan bersama.





